Kamis, 23 Januari 2014

Motivasi



Celotehan Pena yang Bisu
12
 Agustus 2013, yaitu hari yang sangat aku tunggu-tunggu dimana pada hari itu adalah hari pertamaku akan bersekolah di SMA Negeri 1 Pelaihari yang terdapat di Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Indonesia itu merupakan sekolah idamanku semenjak duduk di SD Negeri Atu-Atu Pelaihari, hingga duduk di kelas IX SMP Negeri 1 Kapuas Timur keinginanku untuk bersekolah di situ tidak mengalami perubahan sedikit pun, walau aku sempat bimbang untuk mempertahankan impianku itu karena mustahil mendapatkan izin sekolah jauh dari rumah. Namun aku tetap dengan tekad yang kuat impian tersebut terus ku tancapkan di dalam hati.
Pada saat duduk di kelas VIII, ku kuatkan hati untuk menyampaikan mimpiku tersebut beserta dengan alasan-alasan mimpiku tersebut kepada bapa dan ibuku, namun tidak ada tanggapan sedikit pun dari beliau. Karena tidak mau tertidur dalam suasana yang sunyi aku pun nyerocos mengalihkan pembicaraan seputar pengalamanku di sekolah.
Di tengah malam yang sunyi dimana saat itu aku sedang asyikn berpetualang di dunia mimpi, tiba-tiba telingaku terbangun saat mendengar suara yang tidak asing di yaitu suara bapa dan ibu yang memperbincangkan tentang SMA Negeri 1 Pelaihari. Tidak bermaksud lancang, namun karna penasaran aku terus mengikuti pembicaraan yang dibatasi dinting kamar tersebut. Yang awalnya ku kira hanya diabaikan ternyata dibahas secara serius juga oleh ibu. Mata yang tadinya terasa penuh dengan balutan sarang laba-laba dengan seketika terlepas dengan sendirinya saat mendengar kalimat ”Kita biarkan ade mengejar mimpinya meski ini hal yang sulit bagi kita, namun ade juga mempunyai hak untuk menuntut ilmu di tempat yang terbaik.” Dengan sepontan kalimat yang baru dibahas maknanya saat di kelas pun terlontar dariku ”Alhamdulillahirrobbil’alamin.” Dan semoga ini menjadi jalanku yang terbaik dari-Mu ya Rabb sambungku seraya memohon.
Setelah masa pendaftaran, tes tertulis, menunggu pengumuman yang diterima, Masa Orientasi Sekolah, serta tes psikotes telah dijalani, hari yang ditunggu-tunggu pun tinggal hitungan  minggu. Senyuman mentari yang tadinya selalu menemani hari-hariku kini berubah menjadi kemarahan yang begitu menyakitkan jika dipandang. Mimpiku untuk memanjakan diri sebelum berangkat ke Pelaihari ternyata tidak kesampaian karna Allah berkata lain. Iya’ memang benar apa yang sering dikatakan oleh guruku di sekolah kalaunya manusia hanya bisa berusaha dan Allahlah yang menentukan.
3 hari menjelan keberagkatanku terjadi konflik dimana aku terletak pada posisi yang sangat tersudut. Bahkan izin keberangkatanku hampir saja musnah bak kertas yang hanya tertinggal sedikit sudutnya saja dari sengatan api. Disitu aku sangat tak berdaya lagi untuk bersikeras apa lagi yang dihadapkan adalah anggota keluargaku sendiri. Ingin rasanya berteriak dengan senyaring-nyaringnya agar semua yang ada di bumi ini mendengar celotehan hati yang membisu, namun semua itu tak akan pernah bisa terjadi karna mereka semua disibukkan dengan ponisan yang keluar dari keogoisan mereka semua tanpa peduli untuk melihat kebenaran yang sesungguhnya. Kututup mulutku dengan serapat mungkin agar dia membisu dan tidak mendengarkan perintah hati yang ingin menceloteh tersebut.
Karna ketidak mampuanku untuk berbicara lagi, ku kembalikan semuanya kepada Allah Yang Maha mampu untuk berkata-kata. Pada saat yang demikian ku buka mata, telinga, hati dan pikiranku ku buka dengan selebar-lebarnya untuk menerima apa pun yang akan terjadi padaku di saat itu.
Tidak terasa hujan yang begitu derasnya menggalir di kedua pipiku dari siang hingga malam. Tidak ada yang berani menegur sapaku pada saat seperti itu terkecuali hanya Mba Yati kakaku yang kedua dengan satu kalimat motifasi  “Tabahkan hati dan jangan berputus asa dalam mengejar mimpimu de!” aku hanya dapat membalas dengan anggukan kepala yang berarti mengiyakan nasehat beliau.
            Ditegah malam yang gelap gulita hanya tinggal aku yang masih di luar dunia mimpi. Dikala seperti itu, jangrik yang mempunyai kepedulian tinggi tanpa disuruh menyanyikan suara cemprengnya. Tanpa dorongan juga pikiranku memikirkan hal apa yang akan ku lakukan apabila keesokan harinya aku tetap tidak mendapatkan izin untuk berangkat. Kabur dari rumah atau mengakhiri hidup secara dini?... “Astaghfirullahal’ajiim.. Ya’allah,,. Tolonglah hamba Ya Robb... jauhkanlah hamba dari hal yang buruk.” hati kecil yang tak setuju dengan jalan pikiranku saat itu dengan spontan menangkis. Seiring dengan pikiran itu, hadir pula hal-hal buruk efek jika aku menuruti apa yang terlintas dalam benakku itu. “Akankah masalah yang aku hadapi ini terselesaikan dengan cara aku mengakhiri hidup secara dini?” Tidak, masalahku tidak akan terselesaikan dengan cara aku mengakhiri hidup secara dini. Bahkan malah akan mendatangkan masalah baru, Allah pun akan sangat murka terhadapku.
            “Keapa guna ilmu yang selama ini aku timba di sekolah..,? Mana jiwa kepemimpinan yang aku terapkan selama menjabat sebagai Ketua Osis di SMP..,? Mana keteguhan jiwaku yang aku pelajari dan aku terapkan  dari kelas satu SD..,? Apakah aku akan lari dari masalah begitu saja...,? Tidak, aku pengecut semacam itu, aku kuat menghadapi masalah, aku pasti bisa menakhlukkan masalah ini.” Debatku yakin akan amanah dari Allah.
            Masalah keraguan jiwa yang rapuh berhasil dituntaskan oleh celotehan hati yang tak pernah membisu, kini semuanya ku pasrahkan kembali kepada Allah untuk masalah yang akan ku hadapi diesokan hari. Mata yang tak mau sayup bak mawar yang sedang baru merekah akhirnya mengatup juga dengan iringan tasbih dan istighfar.
            Suara pengajian menjelang azan subuh dari masjid yang tak jauh dari rumahku dengan perlahan membangunkan telinga dari dunia mimpi. Aku bangkit dari tempat tidur dan dengan sangat perlahannya kuputar gagang pintu kamar agar tidak membangunkan bapak dan ibuku yang lagi terlelap dalam dunia mimpi. Ternyata suara dari gagang pintu yang sudah dengan perlahannya tetap mengeluarkan suara khasnya, suasana hati yang kalut ditambah dengan suara jantung yang bedetak kencang berubah menjadi begitu segar dan fress ketika air wudhu menyapu muka. Menerima respon yang sangat positif dari sentuhan air wudhu tersebut anggota tubuh lainnya pun menagih pula untuk dibaluti dengan air wudhu yang mengandung sejuta pelangi tersebut.
            Seusai berwudhu, kusempatkan diri untuk menatap wajah  kembaranku  yang terkurung di dalam cermin kamar mandi tersebut kini dia mengalami banyak perubahan, tidak seperti ang aku lihan biasanya, kini dia hanya membisu bak kenanga yang layu, namun aku tetap salut dengannya karna dalam kondisi yang demikian dia masih tersenyum lebar menyapaku seraya berkata “Kamu pasti bisa Mia!”.
            Dengan merdunya muazin mengumandangkan suara azan subuh pada saat itu. Tak mau membuang waktu aku segera beranjak ke kamar dan melaksanakan sholat subuh seperti biasanya. Seusai sholat aku langsung menengadah meminta pertolongan terhadap masalah yang sedang aku hadapi tersebut dan tak lupa pula memohon agar aku bisa menerima dengan ikhlas atas apa yang akan terjadi nantinya. Setelah mersa fress, kuisi kepalakuku dengan pemikiran yang positif. Ku ambil tas yang paling besar dari atas almari, kusiapkan pula pbeberapa pakaian yang mungkin nantinya diperlukan saat aku bersekolah, tak lupa pula semua perabotan-perabotan lainya, setelah dirasa cukup akan hal-hal yang akan diperlukan nantinya, semua itu langsung ku tata dengan rapi ke dalam tas, serta satu hal yang tak pernah absen dari tasku adalah buku diari kecil beserta pena hitam yang setia menjadi teman curhatku itu.
            Setelah semua yang aku perlukan sudah terkemas, kini saatnya mempersiapkan diri. Suasana sunyi senyap, tidak biasanya aku mandi subuh disaat libur sekolah kini aku mandi subuh tanpa ada yang membangunkanku. Seperti biasa seusai mandi aku langsung mengoleskan hand and body ke seluruh permukaan tubuh, serta sama persis dengan gadis remaja lainnya aku pun tak lupa pula merias wajah dengan polesan yang sederhana.
            Ranselku yang sejak tadi menatapku dengan tanda tanya tetap tak menerima respon apa pun dariku dia tetap berada di belakang pintu tepat pada posisi awal aku metakkannya tadi. Sementara keluargaku belum ada yang yang bangunnya hingga pukul 05.30 WIB. Entah mungkin karena konflik kemaren semuanya menjadi membisu seperti itu aku pun tak mengerti. Jauh dari keluarga yang aku kenal sebelumnya, canda, tawa, tegur dan sapa tak seakrab sebelumnya bahkan tak ada sedikit pun aku jumpai kini.
            Karena semuanya yang belum bangun dan waktu masih menunjukkan sangat pagi, aku pun berusaha menyibukkan diri di dapur membantu menyiapkan masakan buat sarapan bersama. Dan tak tlama kemudian datang ibu nada dua orang mbaku menyusul ke dapur mungkin mereka terbangun karna suara tempuran gelas dan mangkok yang berusaha aku masukkan ke almari kaca di dapur. “Bangun pagi de?” tanya Mba Ana terhadapku. Pertanyaan beliau hanya aku jawab dengan senyum tipis.
            Ibu dan Mba Yati tampak langsung menyibukkan diri dengan memasak. Aku titdak berani menyapa senyara langsung karena hal itu mungkin akan merusak suasana, jadi aku hanya membantu mengerjakan hal-hal yang tampak perlu dikerjakakan saja. Dan setelah sarapan sudah dihidangkan, walaupun ada masalah seberat apa pun bapak sangat marah jikalau ada diantara kami tidak hadir dalam sarapan bersama, maka dari itu tak ada yang absen saat sarapan di pagi itu. Walaupun sarapan dipagi itu sangat berbeda dengan biasanya namun tetap berjalan dengan lancar.
            Setelah sarapan diadakan diskusi kecil di dalam keluarga. Lambung yang sedang asyik mencerna makanan merasa terganggu oleh suara jantung yang terus menceloteh tak mau diam meski ditegur hati itu. Namun karena tidak ingin ada keributan di dalam diri, jiwa dan hati berunding untuk mencoba mengikhlaskan atas apa pun yang akan dihasilkan dari diskusi nantinya. “Disaat seperti inilah yang paling tepat untuk mempraktikkan ilmu yang aku dapatkan dari pengajian ke dalam dunia nyata.” Celoteh nasehat si hati yang berusaha terus tegar.
            Sekitar dua jam berjalannya diskusi, akhirnya mendung yang menyelimuti bola yang berusaha kutahan sedari tadih akhirnya tertumpahkan menjelma menjadi hujan yang begitu derasnya mengalir di kedua pipiku diiringi dengan puji syukur kehadirat Allah SWT yang selalu memberi jalan terbaik untukku, aku diizinkan untuk berangkat.  Saat aku membuka mataku, aku dikagetkan atas kehadiran mamas dari teras yang membawa sebuah tumpeng kuning yang sangat persis dengan tumpeng saat aku khataman Qur’an dulu yang dihiasin dengan sebutir telur bebek di puncaknya serta di kelilingi dengan berbagai hiasan dari buah dan sayuran di sekitarnya. “Kalian semua jahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaatttt, ngeselin, tega ngerjain ade nyampe segitunya....” spontan terlontar dari mulutku.  Ruangan yang tadinya sunyi senyap seketika berubah seperti pasar, riuh dengan celotehan sana-sini. Sedangkan bapa dan ibu hanya senyum dan langsung memelukku. Puji syukurku tak henti-hentinya kehadirat Allah yang telah melimpahkan kasih sayang-Nya kepadaku melalui keluarga yang begitu menyayangi aku itu. Yah’ iya sih sejujurnya aku masih kesel sama semuanya, heuummhhh.... ada-ada saja olah mereka. Namun aku sangat bersyukur atas kehadiran keluarga yang begitu luarbiasanya dalam hidupku.
            Namun, bapak dan ibuku tetap tidak mau terlalu memanjakanku dengan memberi fasilitas yang berlebihan, beliau mengajariku untuk menjadi muslimah yang sederhana agar bisa mengendalikan diri dan dan terhindar dari kecongkakkan hati yang akan membahayakan aku nantinya. Fasilitas yang dibekalkan kepadaku cukup pasilitas yang benar-benar aku perlukan nantinya di kost. Karena jam keberangkatanku sudah tiba, maka aku pamitan kesemua keluarga dan meminta do’a dari mereka agar aku trhindar dari hal-hal buruk dan tetap dalam keadaan iman dan taqwa. Mamas yang mau mengantarkanku sudah siap dengan mobil yang sejak kemaren beliau bersihkan. “Rapi banget sih mas” ejekku, namun mamas hanya tersenyum.
            Karna jadwal nyampe ke kos habis maghrib, mamas jalannya mutar melalui Banjar Baru sekalian mampir tempat teman rekan kerjanya untuk bersilatuh rami. Setelah rasa penat kami sudah hilang, mamas melanjutkan perjalanan kembali ke Pelaihari, berhubung waktu masih menunjukkan pukul 15.30 WIB, mamas menyempatkan diri ke rekan kerjanya lagi untuk bersilaturahmi. Karena suasana masih lebaran Idul Fitri, dimana setiap kami singgah selalu disuguhi dengan masakan yang sangat sarat dengan bumbu membuat perutku merasa nek. Namun, sangat berbeda dengan tempat teman mamas yang satu ini, kami disuguhi nila goreng serta lalapan daun sinkong yang ditemani dengan sambel terasi yang begitu menggugah napsu makan kami. Ternyata istri teman mamas sedang pulkam sehingga beliau masak menu fress semacam itu. Setelah waktu  menuntukkan pukul 17.00 WIB, kami lanjutkan perjalanan ke rumah mba yang ada di Pelaihari sekalian untuk mengambil perabotan sekolahku yang selama MOS aku titipkan.
            Setelah waktu maghrib kami habiskan di rumah mba, selanjutnya kami teruskan ke tujuan utama yaitu ke rumah dimana aku akan tinggal di situ selama menuntut ilmu selagi bersekolah di SMANPEL, yaitu rumah kost. Gelapnya malam hari yang telah menenggelamkan mentari ditambah kosku yang berada di dalam komplek membuat kami kesulitan mencari lokasinya. Aku yang hanya sekali menyurvei kos tersebut dan saat itu ku menyurveinya dimalam hari pula sehingga aku mengalami kesulitan utntuk menghafal jalannya. Selama kurang lebih tiga puluh menit kami mengelilingi kompleks hingga sudutnya, akhirnya kos yang dicari pun dapat juga kami temukan.
            Sesampainya di depan kos mamas langsung menghubungi pemilik kosnya. Alhamdulillah, puji syukurku tak henti-hentinya atas ramat yang selalu Allah limpahkan kepadaku, ternyata ibu kos yang satu ini tidak seperti yang ada di dalam benak pikirku  mengenai pemilik kos yang sangat garang dan tidak bersahabat dengan anak kosnya, beliau malah sangat ramah-tamah menjelaskan apa-apa yang belum kuketahui mengenai kosku itu. Seusai menjelaskan seputar kos, beliau izin meninggalkanku untuk kembali kerumah beliau yang terletak di belakang rumah kosku itu. Sepulangnya ibu kos, terdengar suara ketokkan di pintu kamar kosku yang ternyata mereka teman-teman kos yang lebih senior daripadaku. Setelah menghabiskan waktu dengan teman-teman baruku di kos dan waktu juga sudah menuntukkan pukul sembilan malam, aku pun izin untuk istirahat karena besok harinya harus sekolah. karena faktor kecapeaan yang agak lumaian, tidak perlu lagi aku menghitung domba di langit-langit kamar untuk memasuki dunia mimpi, seusai berdo’a aku pun langsung masuk ke alam bawah sadarku.
            “Alahu Akbar.. Allahu Akbar......................!” suara azan yang rupanya sangat dekat dengan kosku itu membangunkanku dari alam bawah sadar dengan begitu syahdunya. Teringat kalu hari ini adalah hari pertamaku bersekolah di SMANPEL, aku pun bergegas mandi dan ku teruskan melaksanakan sholat subuh. Seusai solat, ku ganti bohlamp untuk tidur ke bohlamp yang biasa. Seusai merapikan tempat tidur, kulirik jam tangan yang terletak di atas almari miniku itu ternyata masih menunjukkah pukul 04.00 WIB. Kalau dirumahku mungkin jam segitu masih sangat pagi untuk bangun, namun di kalsel sudah masuk ke bagian waktu tengah sehingga jamku tersebut kurang up date selama satu jam. Masalah adaptasi waktu alhamdulillah aku tidak mengalami kesulitan karena aku sudah mempunyai pengalaman hidup dengan pembagian waktu tersebut selama tiga tahun semasa sekolah dasar.
            Untuk mengisi waktu sambil menunggu munculnya mentari, dengan spontan pikiranku mengajakku berpetualang ke dalam buku diary yang masih tersimpan di saku ranselku yang kemarin. Dengan perlahan ku buka cover diaryku itu, tenyata aku disambut dengan senyum manis oleh foto semasa kecilku bersama keluaga yang sempat menarik pesonaku itu. Rasa kangenku pun serasa bertambah menjadi bak ombak yang menghantam karang di pantai. Karna tak ingin berlama-lama larut dalam rasa kangenku yang akan mengakibatkan ibu cemas juga di rumah, ku teruskan langkah gemulai jemariku menelusuri lembar demi lembar hingga tiba di bagian yang masi putih polos tanpa ada nada sedikit pun. Pena yang rupanya juga sangat merindukan pelukan jemariku tersebut langsung ku pertemukan mereka berdua. Tampak terlihat senyuman kuku yang membisu dari setiap jemariku itu, namun mereka dengan kompaknya beserta dengan pikiran jiwa dan hatiku langsung to the point melontarkan kata demi kata yang menceritakan pengalamanku di setiap waktunya itu ke  dalam musium yang berwarna coklat tersebut. Selayaknya  pintu goa yang tidak pernah tertutup, musium coklatku selalu menyambut semua celotehanku yang diterjemahkan melalui sahabatku yang bernama tongkat pena bisu itu menjadi rangkaian kata yang begitu indahnya bak lilitan akar pohon beringin di tepi kali yang sejuk itu.
            Karna keasyikan curhat dengan musiun coklatku, tidak terasa mentari yang ditunggu-tunggu akhiranya dengan malunya mengintip kosku melalui puncak gunung. Sangat ingin rasanya mengundur ulang waktu sehingga bisa kembali bermanja-manja mengeluarkan kata-kata manja kepada musium curhatku, namun apa daya tak ada manusia yang mampu melakukan hal demikian itu sehingga pada akhirnya akulah yang harus mengalah, kututup celotehanku dengan dengan salam manis. Dan kusibukkan waktuku kembali untuk mempersiapkan diri ke sekolah. Karena perut masih belum terasa lapar dan nafsu makanku entah kemana terbangnya, sehingga  aku hanya membuat roti gulung yang kuberi selai coklat dan segelas susu coklat hangat unuk sarapan pertama kalinya di kos dan aku rasa itu sudah cukup sebagai bekal energiku di awal masuk sekolah.
Teng,... tepat pada pukul 06.00 WITA,  aku sudah ke sekolah, namun teman kos yang mengajakku jalan bareng ke sekolah ternyata belum bersiap diri, sehingga dengan sedikit cemas takut terlambat aku menunggu di kamar kosku. Dan tepat pada pukul 07.00 WITA mereka memanggilku dari pintu depan.
Hari pertamaku ngekos, waktu demi waktu ku nikmati dengan enjoy bersama teman yang ada di kos, namun setelah tiga hari aku menjadi anak kos aku mulai merasa bosan dan jenuh. Dari pagi, siang, hingga malam tiak lagi kurasakan sebuah keenjoyan lagi. Kangen ibu, bapak, kakak, adik, serta teman-teman lamaku, mereka selalu membayangi setiap langkah pikiranku. Pulang..... pulang...... dan pulang, kata itu selalu muncul dalam benak pikiranku setuap waktunya. Tidak ada TV, modem, bahkan HP pun aku aku tinggal di rumah.
Jenuh, bosan, serta rasa rasa kangenku berbaur menjadi satu dalam benakku. Tak ingin larut terlalu jauh dalam keterpurukan, aku pun terus mencoba menyabarkan hati, jiwa dan pikiranku dengan memperbanyak istighfar serta memmaba berbagai cerpen yang mengandung cerita motivasi kehidupan. Tak cukup dengan kedua cara tersebut, karena aku belum mendapatkan kepuasan sehingga sambil ku barengi juga dengan nonton berbagai vidio motivasi dari berbagai seminar yang aku ikutin sewaktu di SMP. Dengan bermodal tabah, sabar, serta mencoba ikhlas, alhamdulillah kehidupanku menjadi anak kos berjalan dengan baik.
7 hari pertama menjadi anak kos, sepulang dari sekolah kubulatkan niat.setibanya di kos, pintu kamar kukunci dengan rapatnya, ku nyalakan notebook dan ku putar musik uyang mencurahkan semua rasa kegundahan hati dengan volume yang cukup keras. Ku sandarkan badan condong ke depan seraya memeluk boneka kesayanganku “Sih Panda Black White” di sudut kamar kos. Semua rasa gundah ku luruhkan dari dalam jiwa melalui tetesan air mata yang mengalir deras di pipi. Selama kurang lebih dua jam aku termangu seperti itu.
Ku buka mata perlahan  ternya mentari senja sudah dengan malunya mengintipku dari sudut jendela. Disaat hati sudar benar-benar fress, baru aku beranjak dari kamar untuk nenunaikan tuntutan dari fisikku yang sudah sangat gerah sehingga dia cepat meminta untuk dihujani dengan beningnya air dari pegunungan tersebut. Saat semua keadaan sudah terasa stabil, kembaliku lanjutkan dengan mengambil beberapa kertas HVS dan tongkat pena yang selalu membisu. Dengan tak sabarnya pena bisu itu langsung mencelotehkan kalimat-kalimat motivasi yang menggunakan pola “Bhihneka Tunggal Eka....” yaitu berbeda-beda kalimat namun mempunyai satu tujuan. Anda lihatlah celotehan si pena berikut.
“AKU TIDAK BOLEH CENGENG!”
“AKU HARUS KUAT!”
“AKU PASTI BISA!”
“ALLAH SAYANG PADAKU!”