Celotehan Pena yang Bisu
|
12
|
Agustus 2013, yaitu hari yang sangat aku
tunggu-tunggu dimana pada hari itu adalah hari pertamaku akan bersekolah di SMA
Negeri 1 Pelaihari yang terdapat di Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Indonesia
itu merupakan sekolah idamanku semenjak duduk di SD Negeri Atu-Atu Pelaihari,
hingga duduk di kelas IX SMP Negeri 1 Kapuas Timur keinginanku untuk bersekolah
di situ tidak mengalami perubahan sedikit pun, walau aku sempat bimbang untuk
mempertahankan impianku itu karena mustahil mendapatkan izin sekolah jauh dari
rumah. Namun aku tetap dengan tekad yang kuat impian tersebut terus ku
tancapkan di dalam hati.
Pada
saat duduk di kelas VIII, ku kuatkan hati untuk menyampaikan mimpiku tersebut
beserta dengan alasan-alasan mimpiku tersebut kepada bapa dan ibuku, namun
tidak ada tanggapan sedikit pun dari beliau. Karena tidak mau tertidur dalam
suasana yang sunyi aku pun nyerocos mengalihkan pembicaraan seputar
pengalamanku di sekolah.
Di
tengah malam yang sunyi dimana saat itu aku sedang asyikn berpetualang di dunia
mimpi, tiba-tiba telingaku terbangun saat mendengar suara yang tidak asing di
yaitu suara bapa dan ibu yang memperbincangkan tentang SMA Negeri 1 Pelaihari.
Tidak bermaksud lancang, namun karna penasaran aku terus mengikuti pembicaraan
yang dibatasi dinting kamar tersebut. Yang awalnya ku kira hanya diabaikan
ternyata dibahas secara serius juga oleh ibu. Mata yang tadinya terasa penuh
dengan balutan sarang laba-laba dengan seketika terlepas dengan sendirinya saat
mendengar kalimat ”Kita biarkan ade mengejar mimpinya meski ini hal yang sulit
bagi kita, namun ade juga mempunyai hak untuk menuntut ilmu di tempat yang
terbaik.” Dengan sepontan kalimat yang baru dibahas maknanya saat di kelas pun
terlontar dariku ”Alhamdulillahirrobbil’alamin.” Dan semoga ini menjadi jalanku
yang terbaik dari-Mu ya Rabb sambungku seraya memohon.
Setelah
masa pendaftaran, tes tertulis, menunggu pengumuman yang diterima, Masa
Orientasi Sekolah, serta tes psikotes telah dijalani, hari yang ditunggu-tunggu
pun tinggal hitungan minggu. Senyuman
mentari yang tadinya selalu menemani hari-hariku kini berubah menjadi kemarahan
yang begitu menyakitkan jika dipandang. Mimpiku untuk memanjakan diri sebelum
berangkat ke Pelaihari ternyata tidak kesampaian karna Allah berkata lain. Iya’
memang benar apa yang sering dikatakan oleh guruku di sekolah kalaunya manusia
hanya bisa berusaha dan Allahlah yang menentukan.
3
hari menjelan keberagkatanku terjadi konflik dimana aku terletak pada posisi
yang sangat tersudut. Bahkan izin keberangkatanku hampir saja musnah bak kertas
yang hanya tertinggal sedikit sudutnya saja dari sengatan api. Disitu aku
sangat tak berdaya lagi untuk bersikeras apa lagi yang dihadapkan adalah
anggota keluargaku sendiri. Ingin rasanya berteriak dengan senyaring-nyaringnya
agar semua yang ada di bumi ini mendengar celotehan hati yang membisu, namun
semua itu tak akan pernah bisa terjadi karna mereka semua disibukkan dengan
ponisan yang keluar dari keogoisan mereka semua tanpa peduli untuk melihat
kebenaran yang sesungguhnya. Kututup mulutku dengan serapat mungkin agar dia
membisu dan tidak mendengarkan perintah hati yang ingin menceloteh tersebut.
Karna
ketidak mampuanku untuk berbicara lagi, ku kembalikan semuanya kepada Allah
Yang Maha mampu untuk berkata-kata. Pada saat yang demikian ku buka mata,
telinga, hati dan pikiranku ku buka dengan selebar-lebarnya untuk menerima apa
pun yang akan terjadi padaku di saat itu.
Tidak
terasa hujan yang begitu derasnya menggalir di kedua pipiku dari siang hingga
malam. Tidak ada yang berani menegur sapaku pada saat seperti itu terkecuali hanya
Mba Yati kakaku yang kedua dengan satu kalimat motifasi “Tabahkan hati dan jangan berputus asa dalam
mengejar mimpimu de!” aku hanya dapat membalas dengan anggukan kepala yang
berarti mengiyakan nasehat beliau.
Ditegah malam yang gelap gulita hanya tinggal aku yang
masih di luar dunia mimpi. Dikala seperti itu, jangrik yang mempunyai
kepedulian tinggi tanpa disuruh menyanyikan suara cemprengnya. Tanpa dorongan
juga pikiranku memikirkan hal apa yang akan ku lakukan apabila keesokan harinya
aku tetap tidak mendapatkan izin untuk berangkat. Kabur dari rumah atau
mengakhiri hidup secara dini?... “Astaghfirullahal’ajiim.. Ya’allah,,.
Tolonglah hamba Ya Robb... jauhkanlah hamba dari hal yang buruk.” hati kecil
yang tak setuju dengan jalan pikiranku saat itu dengan spontan menangkis.
Seiring dengan pikiran itu, hadir pula hal-hal buruk efek jika aku menuruti apa
yang terlintas dalam benakku itu. “Akankah masalah yang aku hadapi ini
terselesaikan dengan cara aku mengakhiri hidup secara dini?” Tidak, masalahku
tidak akan terselesaikan dengan cara aku mengakhiri hidup secara dini. Bahkan
malah akan mendatangkan masalah baru, Allah pun akan sangat murka terhadapku.
“Keapa guna ilmu yang selama ini aku timba di sekolah..,?
Mana jiwa kepemimpinan yang aku terapkan selama menjabat sebagai Ketua Osis di
SMP..,? Mana keteguhan jiwaku yang aku pelajari dan aku terapkan dari kelas satu SD..,? Apakah aku akan lari
dari masalah begitu saja...,? Tidak, aku pengecut semacam itu, aku kuat
menghadapi masalah, aku pasti bisa menakhlukkan masalah ini.” Debatku yakin
akan amanah dari Allah.
Masalah keraguan jiwa yang rapuh berhasil dituntaskan
oleh celotehan hati yang tak pernah membisu, kini semuanya ku pasrahkan kembali
kepada Allah untuk masalah yang akan ku hadapi diesokan hari. Mata yang tak mau
sayup bak mawar yang sedang baru merekah akhirnya mengatup juga dengan iringan
tasbih dan istighfar.
Suara pengajian menjelang azan subuh dari masjid yang tak
jauh dari rumahku dengan perlahan membangunkan telinga dari dunia mimpi. Aku
bangkit dari tempat tidur dan dengan sangat perlahannya kuputar gagang pintu
kamar agar tidak membangunkan bapak dan ibuku yang lagi terlelap dalam dunia
mimpi. Ternyata suara dari gagang pintu yang sudah dengan perlahannya tetap mengeluarkan
suara khasnya, suasana hati yang kalut ditambah dengan suara jantung yang
bedetak kencang berubah menjadi begitu segar dan fress ketika air wudhu menyapu
muka. Menerima respon yang sangat positif dari sentuhan air wudhu tersebut
anggota tubuh lainnya pun menagih pula untuk dibaluti dengan air wudhu yang
mengandung sejuta pelangi tersebut.
Seusai berwudhu, kusempatkan diri untuk menatap wajah kembaranku
yang terkurung di dalam cermin kamar mandi tersebut kini dia mengalami
banyak perubahan, tidak seperti ang aku lihan biasanya, kini dia hanya membisu
bak kenanga yang layu, namun aku tetap salut dengannya karna dalam kondisi yang
demikian dia masih tersenyum lebar menyapaku seraya berkata “Kamu pasti bisa
Mia!”.
Dengan merdunya muazin mengumandangkan suara azan subuh
pada saat itu. Tak mau membuang waktu aku segera beranjak ke kamar dan
melaksanakan sholat subuh seperti biasanya. Seusai sholat aku langsung
menengadah meminta pertolongan terhadap masalah yang sedang aku hadapi tersebut
dan tak lupa pula memohon agar aku bisa menerima dengan ikhlas atas apa yang
akan terjadi nantinya. Setelah mersa fress, kuisi kepalakuku dengan pemikiran
yang positif. Ku ambil tas yang paling besar dari atas almari, kusiapkan pula pbeberapa
pakaian yang mungkin nantinya diperlukan saat aku bersekolah, tak lupa pula
semua perabotan-perabotan lainya, setelah dirasa cukup akan hal-hal yang akan
diperlukan nantinya, semua itu langsung ku tata dengan rapi ke dalam tas, serta
satu hal yang tak pernah absen dari tasku adalah buku diari kecil beserta pena
hitam yang setia menjadi teman curhatku itu.
Setelah semua yang aku perlukan sudah terkemas, kini
saatnya mempersiapkan diri. Suasana sunyi senyap, tidak biasanya aku mandi
subuh disaat libur sekolah kini aku mandi subuh tanpa ada yang membangunkanku.
Seperti biasa seusai mandi aku langsung mengoleskan hand and body ke seluruh
permukaan tubuh, serta sama persis dengan gadis remaja lainnya aku pun tak lupa
pula merias wajah dengan polesan yang sederhana.
Ranselku yang sejak tadi menatapku dengan tanda tanya
tetap tak menerima respon apa pun dariku dia tetap berada di belakang pintu
tepat pada posisi awal aku metakkannya tadi. Sementara keluargaku belum ada
yang yang bangunnya hingga pukul 05.30 WIB. Entah mungkin karena konflik
kemaren semuanya menjadi membisu seperti itu aku pun tak mengerti. Jauh dari
keluarga yang aku kenal sebelumnya, canda, tawa, tegur dan sapa tak seakrab
sebelumnya bahkan tak ada sedikit pun aku jumpai kini.
Karena semuanya yang belum bangun dan waktu masih
menunjukkan sangat pagi, aku pun berusaha menyibukkan diri di dapur membantu
menyiapkan masakan buat sarapan bersama. Dan tak tlama kemudian datang ibu nada
dua orang mbaku menyusul ke dapur mungkin mereka terbangun karna suara tempuran
gelas dan mangkok yang berusaha aku masukkan ke almari kaca di dapur. “Bangun
pagi de?” tanya Mba Ana terhadapku. Pertanyaan beliau hanya aku jawab dengan
senyum tipis.
Ibu dan Mba Yati tampak langsung menyibukkan diri dengan
memasak. Aku titdak berani menyapa senyara langsung karena hal itu mungkin akan
merusak suasana, jadi aku hanya membantu mengerjakan hal-hal yang tampak perlu
dikerjakakan saja. Dan setelah sarapan sudah dihidangkan, walaupun ada masalah
seberat apa pun bapak sangat marah jikalau ada diantara kami tidak hadir dalam
sarapan bersama, maka dari itu tak ada yang absen saat sarapan di pagi itu.
Walaupun sarapan dipagi itu sangat berbeda dengan biasanya namun tetap berjalan
dengan lancar.
Setelah sarapan diadakan diskusi kecil di dalam keluarga.
Lambung yang sedang asyik mencerna makanan merasa terganggu oleh suara jantung
yang terus menceloteh tak mau diam meski ditegur hati itu. Namun karena tidak
ingin ada keributan di dalam diri, jiwa dan hati berunding untuk mencoba
mengikhlaskan atas apa pun yang akan dihasilkan dari diskusi nantinya. “Disaat
seperti inilah yang paling tepat untuk mempraktikkan ilmu yang aku dapatkan
dari pengajian ke dalam dunia nyata.” Celoteh nasehat si hati yang berusaha
terus tegar.
Sekitar dua jam berjalannya diskusi, akhirnya mendung
yang menyelimuti bola yang berusaha kutahan sedari tadih akhirnya tertumpahkan
menjelma menjadi hujan yang begitu derasnya mengalir di kedua pipiku diiringi
dengan puji syukur kehadirat Allah SWT yang selalu memberi jalan terbaik
untukku, aku diizinkan untuk berangkat. Saat
aku membuka mataku, aku dikagetkan atas kehadiran mamas dari teras yang membawa
sebuah tumpeng kuning yang sangat persis dengan tumpeng saat aku khataman
Qur’an dulu yang dihiasin dengan sebutir telur bebek di puncaknya serta di
kelilingi dengan berbagai hiasan dari buah dan sayuran di sekitarnya. “Kalian
semua jahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaatttt, ngeselin, tega ngerjain ade nyampe segitunya....”
spontan terlontar dari mulutku. Ruangan
yang tadinya sunyi senyap seketika berubah seperti pasar, riuh dengan celotehan
sana-sini. Sedangkan bapa dan ibu hanya senyum dan langsung memelukku. Puji
syukurku tak henti-hentinya kehadirat Allah yang telah melimpahkan kasih
sayang-Nya kepadaku melalui keluarga yang begitu menyayangi aku itu. Yah’ iya
sih sejujurnya aku masih kesel sama semuanya, heuummhhh.... ada-ada saja olah
mereka. Namun aku sangat bersyukur atas kehadiran keluarga yang begitu
luarbiasanya dalam hidupku.
Namun, bapak dan ibuku tetap tidak mau terlalu
memanjakanku dengan memberi fasilitas yang berlebihan, beliau mengajariku untuk
menjadi muslimah yang sederhana agar bisa mengendalikan diri dan dan terhindar
dari kecongkakkan hati yang akan membahayakan aku nantinya. Fasilitas yang
dibekalkan kepadaku cukup pasilitas yang benar-benar aku perlukan nantinya di
kost. Karena jam keberangkatanku sudah tiba, maka aku pamitan kesemua keluarga
dan meminta do’a dari mereka agar aku trhindar dari hal-hal buruk dan tetap
dalam keadaan iman dan taqwa. Mamas yang mau mengantarkanku sudah siap dengan
mobil yang sejak kemaren beliau bersihkan. “Rapi banget sih mas” ejekku, namun
mamas hanya tersenyum.
Karna jadwal nyampe ke kos habis maghrib, mamas jalannya
mutar melalui Banjar Baru sekalian mampir tempat teman rekan kerjanya untuk
bersilatuh rami. Setelah rasa penat kami sudah hilang, mamas melanjutkan
perjalanan kembali ke Pelaihari, berhubung waktu masih menunjukkan pukul 15.30
WIB, mamas menyempatkan diri ke rekan kerjanya lagi untuk bersilaturahmi.
Karena suasana masih lebaran Idul Fitri, dimana setiap kami singgah selalu
disuguhi dengan masakan yang sangat sarat dengan bumbu membuat perutku merasa
nek. Namun, sangat berbeda dengan tempat teman mamas yang satu ini, kami
disuguhi nila goreng serta lalapan daun sinkong yang ditemani dengan sambel
terasi yang begitu menggugah napsu makan kami. Ternyata istri teman mamas
sedang pulkam sehingga beliau masak menu fress semacam itu. Setelah waktu menuntukkan pukul 17.00 WIB, kami lanjutkan
perjalanan ke rumah mba yang ada di Pelaihari sekalian untuk mengambil
perabotan sekolahku yang selama MOS aku titipkan.
Setelah waktu maghrib kami habiskan di rumah mba,
selanjutnya kami teruskan ke tujuan utama yaitu ke rumah dimana aku akan
tinggal di situ selama menuntut ilmu selagi bersekolah di SMANPEL, yaitu rumah
kost. Gelapnya malam hari yang telah menenggelamkan mentari ditambah kosku yang
berada di dalam komplek membuat kami kesulitan mencari lokasinya. Aku yang
hanya sekali menyurvei kos tersebut dan saat itu ku menyurveinya dimalam hari
pula sehingga aku mengalami kesulitan utntuk menghafal jalannya. Selama kurang
lebih tiga puluh menit kami mengelilingi kompleks hingga sudutnya, akhirnya kos
yang dicari pun dapat juga kami temukan.
Sesampainya di depan kos mamas langsung menghubungi
pemilik kosnya. Alhamdulillah, puji syukurku tak henti-hentinya atas ramat yang
selalu Allah limpahkan kepadaku, ternyata ibu kos yang satu ini tidak seperti
yang ada di dalam benak pikirku mengenai
pemilik kos yang sangat garang dan tidak bersahabat dengan anak kosnya, beliau
malah sangat ramah-tamah menjelaskan apa-apa yang belum kuketahui mengenai
kosku itu. Seusai menjelaskan seputar kos, beliau izin meninggalkanku untuk
kembali kerumah beliau yang terletak di belakang rumah kosku itu. Sepulangnya
ibu kos, terdengar suara ketokkan di pintu kamar kosku yang ternyata mereka
teman-teman kos yang lebih senior daripadaku. Setelah menghabiskan waktu dengan
teman-teman baruku di kos dan waktu juga sudah menuntukkan pukul sembilan
malam, aku pun izin untuk istirahat karena besok harinya harus sekolah. karena
faktor kecapeaan yang agak lumaian, tidak perlu lagi aku menghitung domba di
langit-langit kamar untuk memasuki dunia mimpi, seusai berdo’a aku pun langsung
masuk ke alam bawah sadarku.
“Alahu Akbar.. Allahu Akbar......................!” suara
azan yang rupanya sangat dekat dengan kosku itu membangunkanku dari alam bawah
sadar dengan begitu syahdunya. Teringat kalu hari ini adalah hari pertamaku
bersekolah di SMANPEL, aku pun bergegas mandi dan ku teruskan melaksanakan
sholat subuh. Seusai solat, ku ganti bohlamp untuk tidur ke bohlamp yang biasa.
Seusai merapikan tempat tidur, kulirik jam tangan yang terletak di atas almari
miniku itu ternyata masih menunjukkah pukul 04.00 WIB. Kalau dirumahku mungkin
jam segitu masih sangat pagi untuk bangun, namun di kalsel sudah masuk ke
bagian waktu tengah sehingga jamku tersebut kurang up date selama satu jam.
Masalah adaptasi waktu alhamdulillah aku tidak mengalami kesulitan karena aku
sudah mempunyai pengalaman hidup dengan pembagian waktu tersebut selama tiga
tahun semasa sekolah dasar.
Untuk mengisi waktu sambil menunggu munculnya mentari,
dengan spontan pikiranku mengajakku berpetualang ke dalam buku diary yang masih
tersimpan di saku ranselku yang kemarin. Dengan perlahan ku buka cover diaryku
itu, tenyata aku disambut dengan senyum manis oleh foto semasa kecilku bersama
keluaga yang sempat menarik pesonaku itu. Rasa kangenku pun serasa bertambah
menjadi bak ombak yang menghantam karang di pantai. Karna tak ingin
berlama-lama larut dalam rasa kangenku yang akan mengakibatkan ibu cemas juga
di rumah, ku teruskan langkah gemulai jemariku menelusuri lembar demi lembar
hingga tiba di bagian yang masi putih polos tanpa ada nada sedikit pun. Pena
yang rupanya juga sangat merindukan pelukan jemariku tersebut langsung ku
pertemukan mereka berdua. Tampak terlihat senyuman kuku yang membisu dari
setiap jemariku itu, namun mereka dengan kompaknya beserta dengan pikiran jiwa
dan hatiku langsung to the point melontarkan kata demi kata yang menceritakan
pengalamanku di setiap waktunya itu ke
dalam musium yang berwarna coklat tersebut. Selayaknya pintu goa yang tidak pernah tertutup, musium
coklatku selalu menyambut semua celotehanku yang diterjemahkan melalui
sahabatku yang bernama tongkat pena bisu itu menjadi rangkaian kata yang begitu
indahnya bak lilitan akar pohon beringin di tepi kali yang sejuk itu.
Karna keasyikan curhat dengan musiun coklatku, tidak
terasa mentari yang ditunggu-tunggu akhiranya dengan malunya mengintip kosku
melalui puncak gunung. Sangat ingin rasanya mengundur ulang waktu sehingga bisa
kembali bermanja-manja mengeluarkan kata-kata manja kepada musium curhatku,
namun apa daya tak ada manusia yang mampu melakukan hal demikian itu sehingga
pada akhirnya akulah yang harus mengalah, kututup celotehanku dengan dengan
salam manis. Dan kusibukkan waktuku kembali untuk mempersiapkan diri ke
sekolah. Karena perut masih belum terasa lapar dan nafsu makanku entah kemana
terbangnya, sehingga aku hanya membuat
roti gulung yang kuberi selai coklat dan segelas susu coklat hangat unuk sarapan
pertama kalinya di kos dan aku rasa itu sudah cukup sebagai bekal energiku di
awal masuk sekolah.
Teng,...
tepat pada pukul 06.00 WITA, aku sudah
ke sekolah, namun teman kos yang mengajakku jalan bareng ke sekolah ternyata
belum bersiap diri, sehingga dengan sedikit cemas takut terlambat aku menunggu
di kamar kosku. Dan tepat pada pukul 07.00 WITA mereka memanggilku dari pintu
depan.
Hari
pertamaku ngekos, waktu demi waktu ku nikmati dengan enjoy bersama teman yang
ada di kos, namun setelah tiga hari aku menjadi anak kos aku mulai merasa bosan
dan jenuh. Dari pagi, siang, hingga malam tiak lagi kurasakan sebuah keenjoyan
lagi. Kangen ibu, bapak, kakak, adik, serta teman-teman lamaku, mereka selalu
membayangi setiap langkah pikiranku. Pulang..... pulang...... dan pulang, kata
itu selalu muncul dalam benak pikiranku setuap waktunya. Tidak ada TV, modem,
bahkan HP pun aku aku tinggal di rumah.
Jenuh,
bosan, serta rasa rasa kangenku berbaur menjadi satu dalam benakku. Tak ingin
larut terlalu jauh dalam keterpurukan, aku pun terus mencoba menyabarkan hati,
jiwa dan pikiranku dengan memperbanyak istighfar serta memmaba berbagai cerpen
yang mengandung cerita motivasi kehidupan. Tak cukup dengan kedua cara
tersebut, karena aku belum mendapatkan kepuasan sehingga sambil ku barengi juga
dengan nonton berbagai vidio motivasi dari berbagai seminar yang aku ikutin
sewaktu di SMP. Dengan bermodal tabah, sabar, serta mencoba ikhlas,
alhamdulillah kehidupanku menjadi anak kos berjalan dengan baik.
7
hari pertama menjadi anak kos, sepulang dari sekolah kubulatkan niat.setibanya
di kos, pintu kamar kukunci dengan rapatnya, ku nyalakan notebook dan ku putar
musik uyang mencurahkan semua rasa kegundahan hati dengan volume yang cukup
keras. Ku sandarkan badan condong ke depan seraya memeluk boneka kesayanganku “Sih
Panda Black White” di sudut kamar kos. Semua rasa gundah ku luruhkan dari dalam
jiwa melalui tetesan air mata yang mengalir deras di pipi. Selama kurang lebih
dua jam aku termangu seperti itu.
Ku
buka mata perlahan ternya mentari senja
sudah dengan malunya mengintipku dari sudut jendela. Disaat hati sudar
benar-benar fress, baru aku beranjak dari kamar untuk nenunaikan tuntutan dari
fisikku yang sudah sangat gerah sehingga dia cepat meminta untuk dihujani
dengan beningnya air dari pegunungan tersebut. Saat semua keadaan sudah terasa
stabil, kembaliku lanjutkan dengan mengambil beberapa kertas HVS dan tongkat
pena yang selalu membisu. Dengan tak sabarnya pena bisu itu langsung
mencelotehkan kalimat-kalimat motivasi yang menggunakan pola “Bhihneka Tunggal
Eka....” yaitu berbeda-beda kalimat namun mempunyai satu tujuan. Anda lihatlah
celotehan si pena berikut.
“AKU
TIDAK BOLEH CENGENG!”
“AKU
HARUS KUAT!”
“AKU
PASTI BISA!”
“ALLAH
SAYANG PADAKU!”
Teruslah kembangkan diri semoga bisa mencapai tujuan yang diinginkan. ^.^
BalasHapusALhamdulillahirobbil'alamin.... Puji syukur hamba untukmu ya robbi..amin ya robbal'alamin... iya, makasih ustadz.. :) senang bisa kenal ustadz walau pun hanya di dumay....
Hapus